Kisah Memilukan Tsunami Aceh

Dikutip https://betwin188.org/ Tanggal 26 Desember 2004 negara Indonesia berduka, terjadi gempa besar yang  sangat dasyat yang berasal dari dari Samudera Hindia yang disusul oleh bencana tsunami yang maha dahsyat. Banyak negara yang terpapar dampak, tetapi yang sangat parah terpapar dampaknya ialah Aceh. Gelombang setinggi pohon kelapa atau kurang lebih 10 meter sudah meluluhlantakkan infrastruktur di sebagian distrik Aceh dan menghilangkan nyawa selama 170.000 orang di Aceh. Tsunami Aceh telah lama berlalu, tetapi jejak keganasannya masih dapat anda jumpai di sejumlah wilayah. Sebut saja contohnya kapal di atas rumah, kapal PLTD Apung I, Mesjid Rahmatullah. Bahkan, untuk memperingati sekaligus peringatan untuk kita semua, telah diciptakan sebuah Museum Tsunami Aceh di pusat kota Banda Aceh.  2004 Saat tersebut gue masih duduk di ruang belajar 1 SMA. Gue tercengang menonton berita mengenai gempa di Aceh berkekuatan 9,1 – 9,3 SR dan lantas disusul dengan tsunami yang paling besar, yang memporak-porandakan Banda Aceh dan wilayah di sekitarnya. Musibah yang spektakuler mengerikan hingga gue juga seakan tak percaya dan bertanya dalam hati, “Ini beneran??”. Berbagai media sibuk meliput tragedi yang merenggut banyak jiwa manusia itu. Betapa mengerikannya musibah itu, alangkah kasihan orang-orang yang kehilangan saudara dan keluarganya. Duka yang sungguh mendalam yang barang kali akan terpatri powerful di pikiran para korban yang menikmati langsung efek dari bencana tersebut. 2011 Ini adalahpenerbangan kesatu dalam hidup gue. Sedikit menegangkan sebab cuaca di atas sedang tidak cukup bagus. “Duh, apakah sengeri ini masing-masing kali terbang naik pesawat?”, satu pertanyaan dalam hati ketika itu. Kesan kesatu naik pesawat ternyata tidak cukup menyenangkan. Namun kesudahannya tak terbukti sesudah puluhan kali naik pesawat. Gue akhirnya hingga di Banda Aceh. Kedatangan kali ini dalam rangka penugasan dari kantor. Bila bicara mengenai Aceh, barangkali pikirananda langsung terkenang dengan tsunami, di samping mie aceh tentunya. Aceh dan Tsunami memang laksana 2 urusan yang tidak dapat dipisahkan. Seperti magnet dan besi, saling melekat. Aceh yang estetis seketika porak poranda oleh gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004.  Pada trafik kali ini, gue berpeluang mengunjungi museum tsunami aceh dansejumlah lokasi ikonik yang menjadi saksi bisu kehebatan tsunami 2004 lalu. Museum Tsunami Aceh Kalau ke Aceh, tidak boleh lupa guna mampir ke Museum Tsunami Aceh. Secara visual, museum yang disainnya dirancang oleh M. Ridwan Kamil (Walikota Bandung sekarang) ini tampak unik, megah, dan cantik, baik eksterior maupun interiornya. Namun, yang lebih urgen dari itu, informasi mengenai tsunami aceh yang diserahkan di dalam museum ini pun sangat informatif dalam sejumlah ilustrasi yang berbeda. Saat kita menginjak museum yang dimulai untuk umum semenjak tanggal 8 Mei 2009 ini, terdapat perasaan getir dan buat merinding. Terdapat sejumlah ruangan tematik di dalamnya, seperti suatu lorong sempit dengan gemericik air yang mencerminkan tentang kejadian tsunami, sumur doa yang mengandung nama-nama korban tsunami dengan puncak artikel Allah dalam bahasa arab di atasnya, ilustrasi-ilustrasi kejadian tsunami baik melewati media foto, tulisan, audio visual, dan ruang 4 dimensi kejadian tsunami. Sudut demi sudut gue jelajahi untuk tentang lebih jauh mengenai tsunami. Semakin tidak sedikit informasi mengenai tsunami aceh yang masuk ke benak gue, semakin gue berempati. Berimajinasi menginginkan saat kejadian, menyaksikan orang-orang menangis kehilangan keluarganya, mayat yang berserakan, puing-puing bangunan, kota yang menjadi bobrok dan kotor.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *