Suwarnadwipa, Pantai Tersembunyi di Pulau Emas

Dikutip https://betwin188.online/ Sesungguhnya, Suwarnadwipa adalah sebuah resort pinggir pantai yang masih sedang di daratan Sumatera. Kerapkali orang menyebutnya pulau Suwarnadwipa. Tidak salah memang. Karena Suwarnadwipa sendiri, yang dengan kata lain pulau emas, ialah nama beda dari Pulau Sumatera. Pulau yang kaya bakal hamparan emas yang terdapat di dalam tanahnya.

 

Walaupun masih sedang di pulau Sumatera, tetapi Suwarnadwipa tidak dapatdicapai lewat darat. Tempatnya tersembunyi di balik tebing-tebing yang menjulang tinggi di ujung hutan. Satu-satunya jalan mengarah ke kesanaialah dengan melewati jalur laut guna mencapainya.

 

Seperti pantai lainnya di gugusan pulau-pulau kecil di distrik ini, Suwarnadwipa mempunyai pasir putih yang lembut. Garis pantainya tidakterlampau panjang, terlebih ada tebing yang membatasinya.

 

Yang menarik, terumbu karang di pantai ini tampak jauh lebih jelas dari atas permukaan laut, dikomparasikan dengan di Pasumpahan.

 

Matahari telah mulai bergerak mengarah ke ke barat saat gue meninggalkan Pulau Pasumpahan beserta wisatawan lainnya. Sesuai perjanjian awal, destinasi berikutnya ialah Suwarnadwipa.

 

Ada pulau Sikuai, Sirandah, dan lain-lain yang gue tak sempat namanya. Itu menurut penuturan bapak empunya kapal. Sedangkan di sebelah kiri kapal ialah pulau Sumatera yang masih terlihat binal dan alami. Tidakterdapat pemukiman penduduk, melulu pantai berpasir, pantai berbatu, dan hutan yang masih lebat pepohonannya.

 

 

Perjalanan kesini mengingatkan gue menjelajahi Taman Nasional Komodo, dimana di sebelah kiri ialah daratan Flores dan di sebelah kanan tidak sedikit dijumpai pulau-pulau kecil berbukit. Bedanya, pulau berbukit di Sumatera Barat rimbun, ditumbuhi tidak sedikit pepohonan dan semak belukar. Sedangkan pulau-pulau berbukit di Taman Nasional Kepulauan Komodobeberapa besar ditumbuhi oleh rumput ilalang, melulu ada tidak banyak pohon. Rumput itu berwarna hijau dan guling2-able ketika musim hujan 😀 .. Saat musim kemarau, warna hijau nyaris sirna tergantikan warna coklat.

 

Beberapa pulau yang gue lewatin sebelum hingga ke Suwarnadwipasebenarnya biasa dikunjungi juga, namun sejumlah tidak populer, dansejumlah sedang proses pemugaran, seperti contohnya Pulau Sikuai.

 

Sekitar 15 menit perjalanan, sampailah di Suwarnadwipa. Kapal juga merapat. Setelah menurunkan semua penumpang, kapal juga bertolak kembaliguna menjemput rejeki lain

 

Saat itu, Suwarnadwipa sedang rame-ramenya dikunjungi wisatawan. Ya walaupun gak seramai di Pasumpahan ya..

 

Saat berlangsung di dermaga, tampak warna laut yang belang, beberapa hijau kebiruan, dan beberapa berwarna gelap, yang menandakan di sini masih tidak sedikit ada terumbu karang.

 

Aktivitas snorkeling pun tidak sedikit terlihat di kanan dan kiri dermaga. Mulai dari orang tua hingga anak-anak kecil berenang kesana kemari merasakan panorama bawah lautnya. Gue sendiri nggak tahu seindah apa di bawah sana. Karena memang semenjak awal, destinasi gue datang ke Suwarnadwipa -juga Pasumpahan- melulu untuk ongkang-ongkang aja di pinggir pantai. Menikmati keadaan pantai yang udah lama gue rindukan.

 

Kami melalui resort yang material bangunannya beberapa besar ialah material alami, laksana halnya di resort-resort pinggir pantai lainnya. Resort ini dikelola oleh pihak swasta.

 

Sesampainya di pantai, gue berjalan menggali spot guna beristirahat. Sudah tidak sedikit terlihat wisatawan yang melangsungkan tikar seraya bersantai-santai. Terlihat juga sejumlah tenda yang berdiri, melulu sedikit, jauh bila dikomparasikan dengan di Pasumpahan. Memang space nyapun terbatas di sini.

menggelar matras dan duduk santai dengan Ayu. Merapikan tempat,menyelamatkan barang-barang, lalu merasakan jajanan yang kami bawa dari Kota Padang. Tak ada kegiatan lain, melulu tiduran sambil merasakan angin pantai semilir, melihat kegiatan orang-orang di pantai. Ada yang berenang, snorkeling, foto-foto di buaian (kayanya lagi ngetren banget nih buaian di pantai ala ala di Ombak Sunset Gili Trawangan), main pasir, dan lain-lain. Surgaaaa..

 

Saat itu, keindahan pantai memang tidak cukup maksimal disebabkan langit yang putih mendung. Gue juga belum dapat menikmati keindahan hakiki dari pantai ini. Aaaah, sayang sekali.

 

Lagi asyik-asyiknya tiduran merasakan angin semilir, tiba-tiba rintik hujan mulai turun. Duuh gawaaat! Sepertinya hujan bakal semakin derasmenilik langit yang semakin gelap. Gue segera bergegas mengemasi barang-barang. Pun begitu dengan pengunjung lainnya.

 

Benar saja, gak lama kemudian, hujan semakin deras, semakin deras, dan tiba-tiba deras banget. Para wisatawan yang gak inginkan kena basah langsung berhamburan menggali tempat berteduh. Gue mengejar spot teduh di bawah atap di antara resort terdekat. Tak lama, tidak sedikit pengunjung beda yang mengikuti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *